Rabu, 29 Desember 2010

Stadion Gelora Bung Karno

Suasana mendung berubah seketika menjadi gelap di Stadion Gelora Bung Karno sekitar pukul 17.00 WIB, Selasa (28/12/2010). Selang beberapa menit, angin kencang mendadak menerpa stadion dan sekitarnya.

Berdasarkan pantauan media massa, pedagang yang tengah berjualan di area Stadion Gelora Bung Karno buru-buru memberesi dagangannya yang beterbangan. Pedagang kaus dan atribut lainnya juga memunguti barang jualannya yang tertiup angin, sementara pedagang makanan lekas-lekas mengamankan makanan dari tiupan angin yang disusul hujan deras.

Sementara itu, di kantin KONI di belakang Hotel Atlet Century, angin kencang dan hujan deras tersebut mengakibatkan dua pohon di dekat kantin tumbang. Para pengunjung kantin yang tengah bersantai kaget dan berlindung dari terpaan angin dan hujan. Demikian catatan online Belajarblog80 tentang Stadion Gelora Bung Karno.

Senin, 20 Desember 2010

Sepuluh lembaga agama

Sepuluh lembaga agama di Provinsi DIY, menyatakan sikap terhadap keistimewaan provinsi tersebut dengan penetapan gubernur dan wakil gubernur bukan dengan pemilihan.

"Kami menyatakan sikap bahwa pengangkatan gubernur dan wakil gubernur adalah melalui mekanisme penetapan, yaitu dari Sri Sultan Hamengku Buwono dan Sri Paduka Paku Alam yang sedang bertahta," kata Ketua MUI DIY, Thoha Abdurrahman saat membacakan pernyataan sikap lembaga-lembaga agama di Yogyakarta, Senin (20/12/2010).

Selain MUI, lembaga agama lain tingkat DIY yang juga turut menyatakan sikap mendukung penetapan tersebut adalah dari Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Kevikepan, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PDHI), Majelis Agama Khong Hu Cu Indonesia (Makin), Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII), Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia serta dari Walubi.

Pernyataan sikap dari lembaga-lembaga agama tersebut didasarkan pada berlarut-larutnya pembahasan Rancangan Undang-Undang Keistimewaan (RUUK) DIY dan di dalamnya kurang dapat mengakomodasi keinginan masyarakat di wilayah DIY, salah satunya adalah munculnya pemikiran untuk pemilihan gubernur dan wakil gubernur.

Thoha menyatakan khawatir pemilihan gubernur dan wakil gubernur DIY seperti yang dilontarkan pemerintah pusat, justru akan menimbulkan perpecahan di Yogyakarta yaitu antara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan masyarakat di wilayah tersebbut.

"Kami ingin agar Indonesia ini tetap utuh sebagai NKRI dan jangan dianggap bahwa penetapan gubernur dan wakil gubernur itu tidak demokratis. Ada unsur musyawarah mufakat di dalamnya yang merupakan esensi dari demokrasi itu sendiri," ujarnya.

Sementara itu, L Herman Simanjuntak perwakilan dari PGI mengatakan, surat pernyataan sikap tersebut telah dikirimkan kepada Presiden Republik Indonesia, Menteri Dalam Negeri dan juga kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

"Kami berharap, pemerintah dapat mendengar suara dari masyarakat Yogyakarta. Semakin banyak suara yang menyatakan penetapan, maka akan semakin baik," katanya.

Selain sepuluh lembaga agama yang telah menyatakan sikap tersebut, juga akan ada beberapa lembaga agama lain yang juga akan menyatakan sikap yang sama kepada pemerintah. Demikian catatan online Belajarblog80 tentang Sepuluh lembaga agama.

Sabtu, 18 Desember 2010

Peneliti CETRO

Peneliti CETRO Refly Harun menyambut baik perkembangan penanganan kasus dugaan suap dan pemerasan hakim Mahkamah Konstitusi (MK) di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Aduan Ketua MK Mahfud MD dan hakim MK Akil Mochtar pekan lalu sudah ditindaklanjuti ke tahap penyelidikan. "Kalau KPK katakan sudah sampai tahap penyelidikan, it's a good news, berita yang baik," ungkapnya di sela menjadi pembicara dalam lokakarya Fraksi Partai Demokrat di Hotel Twin Plaza, Sabtu (18/12/2010).

Refly mengaku senang KPK sudah menindaklanjuti karena ini juga menjadi salah satu rekomendasi tim investigasi internal yang dipimpinnya. Bersamaan dengan temuan, tim memang merekomendasikan dua hal, yaitu pembentukan majelis kehormatan hakim serta tindak lanjut ke penegak hukum, terutama KPK.

Refly sendiri mengaku siap dipanggil oleh KPK untuk dimintai keterangan.
"Saya justru pengen dipanggil duluan malah. Karena saya berharap secepat-cepatnya," katanya.

"Saya kira wasit terbaik di KPK saja. Jadi semua diungkap di KPK. Menurut saya, kita dorong KPK bekerja sebaik-baiknya dan sekencang-kencangnya," tambahnya lagi. Demikian catatan online Belajarblog80 tentang Peneliti CETRO.

Sabtu, 04 Desember 2010

40 hari Mbah Maridjan berpulang

Pada Sabtu (4/12/2010) ini, tepat 40 hari Mbah Maridjan berpulang. Istri, anak-anak, dan cucu-cucunya, serta puluhan warga Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman berkumpul untuk memperingatinya.

Dalam peringatan tersebut, ada spanduk besar bertuliskan: Peringatan 40 hari wafatnya syuhada Gunung Merapi. Syuhada berarti orang yang mati syahid, membela kebenaran ajaran agamanya. Perbuatannya disebut jihad. Jadi, terlepas dari pandangan pihak lain, keluarga dan tetangganya menganggap Mbah Maridjan meninggal di jalan Tuhan.

Peringatan untuk juru kunci Gunung Merapi itu berlangsung pukul 20.10 WIB di Karangjati, Dusun Gendeng, Desa Bangun Jiwo, Kasihan, Bantul. Tepatnya, di kediamannya Agus Wiyarto, anak angkat Mbah Maridjan. Ayat-ayat suci Al-Quran dikumandangkan oleh uztad melalui pengeras suara.

Puluhan warga duduk di bawah tenda dan sebagian lagi duduk lesehan di pinggir jalan itu mengikuti lafalan ayat yang diucapkan uztad. Kemudian asma Allah dikumandangkan terus menerus secara serentak.

Asih, putra Mbah Maridjan, masih sibuk menyambut kedatangan tamu. Begitu pula dengan Agus Wiyanto dan sanak keluarga lainnya. Di sudut ruang, Ponirah, istri almarhum Mbah Maridjan tampak khusuk mengikuti jalannya peringatan tersebut.

Sebelum acara peringatan 40 harian itu berlangsung, Ponirah sempat meladeni sejumlah orang yang ingin bercakap-cakap dengannya. "Mudah-mudahan mbah (Maridjan) diterima di sisi Allah," kata Ponirah tersenyum.

Dalam percakapan tersebut, Ponirah sempat menceritakan situasi terakhir saat ia mengunjungi Dusun Kinahrejo, Jumat, (03/12/2010), lalu. Ia mengunjungi dusun itu setelah menabur bunga di makam suaminya, di Srunen.

"Rumah dan masjid yang ada di sebelahnya sudah hancur dan tertutup pasir," kenang Ponirah dalam bahasa Jawa. Ponirah juga menceritakan pertemuan terakhirnya dengan suaminya, setelah dirinya pulang dari Bandung, Jawa Barat. Demikan pula, keadaan cucunya yang sekarang bersekolah di wilayah Condongcatur.

Menurut Asih, kemarin itu, ibunya Ponirah begitu terharu ketika menabur bunga di makam suaminya. Air matanya jatuh. Namun, ibunya itu tetap tegar menerima kenyataan.

Mereka mengunjungi makam dengan pengawalan dari tim SAR. Berangkat dari bawah sekitar pagi, mengendarai mobil off road. Karena medannya sulit ditempuh, perjalanan dilanjutkan dengan motor trail. Tiba di lokasi sekitar pukul 08.30 WIB.

"Saya, ibu, dan beberapa kerabat lain dibonceng tim SAR sampai ke makam. Kami mengunjungi makam di Srunen dan Sidorejo. Lalu dilanjutkan ke Kinahrejo," terangnya. Demikian catatan online Belajarblog80 tentang 40 hari Mbah Maridjan berpulang.