Minggu, 23 Januari 2011

Polda Metro Jaya

Polda Metro Jaya mengaku telah mengantongi alamat situs-situs serta akun di jejaring sosial seperti Facebook dan Friendster yang diduga dijadikan bisnis prostitusi online.

"Kami terus melakukan patroli cyber untuk mengetahui alamat situs-situs yang dijadikan bisnis prostitusi online. Saat ini, sudah mendapatkan situs dan akun di jejaring sosial yang diduga sebagai media untuk menawarkan jasa prostitusi," ujar Kepala Satuan Cyber Crime Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, AKBP Hermawan, di Jakarta, Minggu 23 Januari 2011.

Bahkan, menurut Hermawan, saat ini banyak pelaku prostitusi online yang menawarkan model-model dari dalam dan luar negeri. "Semakin cantik perempuan yang ditawarkan, tentunya harganya semakin mahal. Apalagi, kalau perempuab dari luar negeri, tarifnya jauh lebih mahal," ungkapnya.

Para pelaku, dia menambahkan, biasanya mempunyai website sendiri. Bahkan, tidak jarang para pelaku juga menggunakan situs jejaring sosial seperti Facebook dan Friendster.

Menurut dia, penyidik juga telah menemukan beberapa situs yang memang menyediakan perempuan-perempuan asal luar negeri dalam bisnis prostitusi online. "Kalau untuk situs-situs ini biasanya sangat eksklusif, dan hanya member yang bisa memesan," ujarnya.

Ia mengakui, para pelaku bisa sangat leluasa menjalankan bisnisnya karena mereka merasa aman serta hukuman yang diberikan juga cukup ringan.

Bahkan, untuk para pelaku yang sudah divonis sebelumnya hanya mendapatlkan hukuman penjara tiga bulan dan denda sebesar Rp8.000.

Padahal, dalam pasal 27 Undang-Undang Informasi dan Teknologi Elektronik (ITE), pelaku bisa dipenjara enam tahun atau denda Rp1 miliar. Namun, untuk vonis maksimal diperlukan dukungan dengan bukti-bukti yang cukup.

Bukti-bukti pendukung lainnya antara lain lalu lintas komunikasi, pemesanan, transfer hingga prosedur pemesanan yang jelas. "Kalau untuk vonis memang bukan di kami, semuanya ada di tangan hakim," ujar dia.

Alhasil, bisnis prostistusi online semakin marak terjadi dan diminati. Selain lebih praktis, bisnis ini tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menjajakan perempuan kepada pria hidung belang. Mereka tidak lagi menawarkan layanan prostitusi dengan cara-cara konvensional.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, mengatakan, hukuman ringan juga mempengaruhi banyaknya orang untuk berbisnis prostitusi online. "Kurang maksimalnya hukuman membuat orang justru tidak pernah jera, sehingga bisnis ini semakin banyak," tuturnya.

Bahkan, menurut dia, saat ini para pelaku juga sudah tidak canggung menawarkan anak di bawah umur untuk dijadikan pemuas nafsu pria hidung belang.

Arist melanjutkan, walaupun bisa dijerat dengan undang-undang perlindungan anak, banyak pelaku yang mendapatkan hukuman ringan, bahkan tidak sesuai tuntutan yang ada di UU Perlindungan anak. "Banyak dari mereka yang hanya dihukum beberapa bulan, dan setelah bebas mereka juga bisa langsung membuka bisnis ini lagi," ujarnya.

Selain hukuman ringan, omzet yang mereka dapatkan dari bisnis ini juga cukup menggiurkan. Untuk ABG yang ditawarkan kepada lelaki hidung belang biasanya bertarif Rp1,5-2 juta untuk sekali kencan. Mereka pun bisa meraup ratusan juta rupiah setiap bulannya. Demikian catatan online Belajarblog80 tentang Polda Metro Jaya.

Kamis, 20 Januari 2011

Partai Golkar

Partai Golkar menggelar rapat internal dengan agenda perkembangan mutakhir di Tanah Air. Salah satunya, pernyataan Gayus Tambunan pascasidang vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kemarin, yang menimbulkan kontroversi dan mengejutkan banyak pihak. Terkait pernyataan Gayus, Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso mengatakan, partainya merasa menjadi pihak yang paling terpukul. Mengapa?

"Memang kami terperanjat dan terpukul atas pengakuan bahwa lingkungan kecil Presiden tidak steril. Kalau benar pengakuan itu, mengenai rekayasa dan punya kepentingan tertentu, sudah tentu kami merasa terpukul karenanya. Kami pertanyakan hal semacam seperti itu dibenarkan. Jelas Golkar dan partai koalisi mengawal hal ini, dan perlu ada klarifikasi lengkap atas masalah ini," kata Wakil Ketua DPR ini di Gedung DPR, Kamis (20/1/2011) sore.

Dalam pernyataannya, Gayus mengatakan bahwa Satgas Pemberantasan Mafia Hukum membawa kasusnya ke ranah politik dan mengaitkan kasusnya dengan perusahaan Grup Bakrie. Priyo mengatakan, partainya berharap Presiden bisa memberikan klarifikasi seputar masalah ini dan mengambil hikmah untuk segera mendisiplinkan cara-cara yang tidak "cantik" yang dimainkan Satgas.

Golkar, lanjutnya, masih menahan diri untuk turut mewacanakan pembubaran Satgas karena itu merupakan hak Presiden. Selain soal Gayus dan Satgas, dalam rapat yang dihadiri pimpinan partai dan fraksi Golkar ini, juga dibahas isu mutakhir, seperti RUUK DI Yogyakarta, kasus Century, kelangkaan pangan, dan reaksi tokoh agama. Demikian catatan online Belajarblog80 tentang Partai Golkar.

Jumat, 07 Januari 2011

Siprianus Lau (18) dan Marni Abanat (17)

Siprianus Lau (18) dan Marni Abanat (17) sudah menjalin asmara selama dua tahun. Bahkan, September lalu keduanya sebenarnya sudah akan menikah. Akan tetapi, api cemburu membakar Lau, dan nyawa Marni pun melayang.

Drama percintaan berujung maut itu terjadi di ranjang kamar Marni di Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Rabu (5/1/2011). Saat itu Lau mengunjungi pacarnya itu, dan menemukan Marni sedang menerima telepon yang diduga dari seorang pria. Lau lantas memukul Marni. Belum puas, dia mengambil pisau dapur dan menusuknya. Marni sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Belu Ajun Komisaris Donny Bramanto di Atambua, Jumat (7/1/2011), mengatakan, hubungan asmara Lau dan Marni memang agak mendingin menjelang akhir tahun lalu. Puncaknya, pada 31 Desember Marni yang masih duduk di kelas XII SMKN Atambua itu tidak mau diajak bermalam Tahun Baru bersama.

Donny menambahkan, hubungan kedua pelajar itu sebenarnya sudah disetujui kedua orangtuanya. Bahkan, September lalu mereka rencananya akan dinikahkan meski akhirnya dibatalkan atas saran para guru agar mereka menyelesaikan sekolah dahulu.

Untuk mencairkan hubungan yang dingin itu, Lau sudah berusaha mengajak bicara Marni. Akan tetapi, di sekolah pun Marni selalu menghindar dari Lau. Kalau ditelepon pun, dia tidak mau mengangkatnya.

Momen malam pergantian tahun rencananya akan dimanfaatkan Lau untuk memperbaiki hubungan, atau setidaknya bisa mengetahui apa penyebab sikap dingin sang pacar. Akan tetapi, Marni kembali menolak ketika diajak bermalam Tahun Baru di rumah Lau.

Setelah itu, Lau terus berupaya menemui korban untuk mencari alasan, mengapa hubungan keduanya tidak berjalan seperti sebelumnya. Ia rela berpisah bila Marni memang menghendaki, tetapi itu harus dibicarakan baik-baik.

Dibakar cemburu

Rabu (5/1/2011) sekitar pukul 11.00, Lau mendatangi rumah Marni. Ia mendapati sang pacar tiduran di kamar sambil bertelepon. Samar-samar, Lau mendengar suara lelaki dari telepon Marni. Api cemburu pun berkobar. "Pelaku lalu memukul korban," kata Donny.

Tidak puas dengan pukulan itu, Lau kemudian lari ke dapur, mengambil pisau, kemudian kembali masuk kamar, dan langsung menikam korban di bagian dada, perut, dan lengan.

Marni sempat berteriak minta tolong sehingga kedua orangtuanya yang sedang berada di belakang rumah bergegas menuju kamar tidur Marni. Gadis ABG itu pun dilarikan ke rumah sakit, tetapi tidak lama kemudian ia mengembuskan napas terakhir.

Sementara itu, Lau melarikan diri ke hutan sekitar rumah Marni, tetapi akhirnya ditangkap hari itu juga. Kini, Lau ditahan di Markas Polres Belu untuk menjalani proses hukum selanjutnya. Demikian catatan online Belajarblog80 tentang Siprianus Lau (18) dan Marni Abanat (17).

Rabu, 05 Januari 2011

Penyidik Bareskrim Polri

Penyidik Bareskrim Polri menggeledah rumah Haposan Hutagalung untuk mencari barang bukti terkait perkara dugaan mafia kasus Gayus Halomoan Tambunan. Dari penggeledahan dua hari lalu itu, penyidik menyita sejumlah dokumen.

"Dokumen atau alat bukti itu bisa menjadi bahan referensi penyidik untuk mengembangkan lebih lanjut," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Rabu (5/1/2011).

Boy belum bersedia mengungkap apa saja dokumen yang disita. Penyidik Direktorat I Pidana Umum Bareskrim Polri masih menyelidiki barang bukti itu.

Seperti diketahui, selain terjerat tiga perkara yang kini bergulir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Haposan sedang disidik kasus dugaan pemalsuan dokumen rencana penuntutan (rentut) untuk terdakwa Gayus. Haposan diduga memalsukan bersama jaksa Cirus Sinaga.

Diduga, ada suap dalam pemalsuan itu. Gayus mengaku menyerahkan uang 50.000 dollar AS kepada Haposan setelah ditunjukkan rentut dengan hukuman pidana selama satu tahun penjara. Namun, penyidik mengaku belum memiliki bukti adanya suap ke jaksa terkait pemalsuan itu. Demikian catatan online Belajarblog80 tentang Penyidik Bareskrim Polri.