Jumat, 15 Juli 2011

kondisi tempurung kepala tidak sempurna

Anak ketiga pasangan Kiman (35) dan Cahyati (33) dari Kabupaten Bekasi lahir dengan kondisi tempurung kepala tidak sempurna. Pasangan ini kesulitan membiayai perawatan untuk jabang bayi karena miskin.

Bayi itu dilahirkan dengan bobot 2,7 kilogram pada Kamis (14/7/2011) sekitar pukul 11.45 WIB. Kelahiran dibantu oleh Bidan Nurhayati di Kampung Pulobambu, Desa Sukaindah, Kecamatan Cabangbungin, Kabupaten Bekasi.

Hanya di kepala bagian belakangnya saja yang nggak ada tulang kerasnya. Di tempat itu sampai keluar (maaf, Red) kayak hati ayam yang lunak," kata Kiman, ayah kandung si jabang bayi, di kediaman di Kampung Pulotanjung RT 01 RW 01 Desa Sindangsari, Cabangbungin, Jumat (15/7/2011).

Karena lahir dengan kondisi tidak normal, Kiman membawa si bungsu itu ke Rumah Sakit Daerah Cibitung.

Namun, karena keterbasan peralatan kesehatan, RSD meminta agar jabang bayi Kiman-Cahyati dibawa ke RS Hasan Sadikin Bandung atau Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. "Dokter bilang, penyakitnya langka," kata Kiman.

Padahal, untuk berobat ke RSCM, pasangan yang miskin ini memerlukan kartu jaminan kesehatan masyarakat. Sayangnya, keluarga ini tidak terdata dan belum memiliki kartu.

"Ini saya baru dapat surat keterangan tidak mampu dari kantor desa dan semoga bisa dipakai," ujar Kiman dengan nada berharap. Demikian catatan online Belajar Ngeblog yang berjudul kondisi tempurung kepala tidak sempurna.

Selasa, 12 Juli 2011

Manajemen PT Garuda Indonesia Tbk

Manajemen PT Garuda Indonesia Tbk mengakui, gaji atau penghasilan pilot asing di BUMN penerbangan itu lebih tinggi dibanding pilot lokal. "Ya, lebih tinggi dibanding pilot tetap WNI (warga negara Indonesia) karena mereka bekerja maksimal satu tahun, tahun ini saja," kata Direktur Operasi PT Garuda Indonesia Tbk Capt Ari Safari kepada pers di Jakarta, Selasa (12/7/2011).

Penegasan tersebut disampaikan terkait dengan pernyataan ratusan pilot PT Garuda Indonesia Tbk yang tergabung dalam Asosiasi Pilot Garuda (APG) dan menyatakan diri secara terbuka sedang resah. "Keresahan kami karena adanya diskriminasi kesejahteraan antara pilot asing dengan pilot lokal, baik posisi Captain maupun First Officer (FO)," kata Kuasa Hukum APG, Said Damanik, sebelumnya.

Said mengatakan, pilot lokal di BUMN penerbangan ini memperoleh rata-rata penghasilan dan fasilitas pendukung dua kali lebih rendah ketimbang pilot asing.

Ari Safari melanjutkan, kebijakan menggunakan pilot asing di Garuda bukan hal baru. Bahkan, pada 1970-an pilot asing yang dikontrak saat itu memiliki tunjangan perumahan di Singapura. "Sedangkan pilot Garuda di Indonesia (tunjangan perumahannya) dan memang penghasilan pilot asing jauh lebih tinggi," katanya.

Kondisi yang sama, lanjut Ari, akan dialami pilot Indonesia jika dikontrak bekerja di maskapai asing. "Contohnya, saya pada 1989 pernah bekerja sementara di Korea Airlines dan penghasilan saya ditambah fasilitas lainnya, jauh di atas pilot Korea," katanya.

Dengan demikian, menurut Ari, hal semacam itu sudah jamak di dunia penerbangan internasional.

Oleh karena itu, tambah Ari, apa yang dilakukan para pilot yang tergabung dalam APG itu hanya masalah kurang mengerti. "Dan, manajemen sebetulnya sudah merencanakan bertemu mereka besok (Rabu, 13/7/2011), setelah pada 28 Juni 2011 melakukan pertemuan serupa," katanya.

Terhadap ancaman mogok terbang jika tuntutan mereka untuk disetarakan dengan pilot asing di Garuda dalam dua pekan ke depan, Ari menilai, hal itu tidak perlu. "Sebab, berdasarkan ketentuan dalam UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, mogok kerja bisa dilakukan jika manajemen dan serikat karyawan yang sebelumnya didahului dengan dialog bipartit maupun tripartit terjadi dead-lock," katanya. Demikian catatan online dari Belajar Ngeblog yang berjudul Manajemen PT Garuda Indonesia Tbk.

Rabu, 06 Juli 2011

Rumah milik Udin

Rumah milik Udin (30), salah seorang yang diduga teroris dan diduga juga terlibat jaringan perdagangan senjata api ilegal yang masih menjadi daftar pencarian orang, digeledah tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri. Dari rumah Udin yang sehari-hari berjualan bubur, polisi membawa satu telepon genggam milik sang istri, Al Quran digital, dan beberapa keping cakram.

Saat ditanyakan tentang keseharian Udin di masyarakat, Andes, Ketua RW 07 Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara, mengatakan, Udin dikenal sebagai pribadi yang ramah dan cukup aktif dalam kegiatan masyarakat. Di masyarakat aktif, setiap habis jual bubur juga mengurus masjid," ujar Andes saat ditemui di depan rumah Udin di Tanah Merah, RT 005, RW 07, Tugu Selatan, Koja, Rabu (6/7/2011).

Andes juga menambahkan, ia sempat berbicara kepada salah seorang anggota polisi yang mengatakan bahwa penggeledahan tersebut merupakan pengembangan dari kasus yang menjerat Udin. Polisi hanya bilang ini pengembangan dari penangkapan lainnya di Koja," kata Andes.

Sementara itu, Wirdawati, istri Udin, tidak bisa diwawancarai karena masih dalam keadaan sakit. Sebelumnya, Densus 88 menangkap tujuh terduga teroris di wilayah Surabaya dan Jakarta. Mereka diduga terlibat jaringan perdagangan senjata api ilegal pada Senin (4/7/2011).

Mereka yang ditangkap di Surabaya berinisial AI alias ADM dan IK. Barang bukti yang disita dari keduanya adalah satu senjata api jenis M-16, lima senjata jenis FN, dan satu senjata jenis mitraliur. Adapun tersangka yang ditangkap di Jakarta berinisial A alias IK, AI alias MR, W O alias S, M IR, dan AMA alias A. Barang bukti yang disita dari mereka adalah dua senjata api jenis M-16. Saat ini, semua tersangka sedang diperiksa secara intensif oleh Densus 88. Demikian catatan online Belajar Ngeblog yang berjudul Rumah milik Udin.